option

Minggu, 23 Maret 2014

COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)


Apa sih COBIT itu?
COBIT merupakan sebuah proses model yang dikembangkan untuk membantu perusahaan dalam pengelolaan sumber daya teknologi informasi (IT). 

COBIT memiliki komponen-komponen sebagai berikut :
a. Executive Summary
b. Framework
c. Control Objective
d. Audit Guidelines
e. Management Guidelines
f. Control Practices

Kerangka kerja pengendalian COBIT terdiri dari 4 hal, yaitu :
  •     Mengaitkannya dengan tujuan organisasi,
  •     Mengorganisasikan aktivitas TI ke dalam model proses,
  •     Mengidentifikasi sumber daya utama TI untuk melakukan percepatan,
  •     Mendefinisikan tujuan pengendalian manajemen untuk dipertimbangkan



COBIT mengadaptasi definisi tujuan pengendalian (control objective) dari SAC yaitu : “Suatu pernyataan atas hasil yang diinginkan atau tujuan yang ingin dicapai dengan mengimplementasikan prosedur pengendalian dalam aktivitas IT tertentu”. Komponen tujuan pengendalian (control objectives) COBIT ini terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi ( high-level control objectives ) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu:
                   
                   1. Planning and Organization
PO1. Define Strategic IT Plan
Pengembangan TI Perusahaan telah direncanakan dengan menyelaraskan tujuan pengembangan TI dengan tujuan perusahaan. Tujuan jangka panjang dan fungsi jangka pendek telah direncanakan dengan acuan sistem TI yang sudah ada.

PO2. Define the Information Architecture
Arsitektur sistem informasi telah didesain sampai dengan level struktur data dan sistem keamanannya.

PO3. Determine Technological Direction
Arah penggunaan dan pengadaan teknologi yang digunakan (hardware dan software) telah direncanakan dengan memperkirakan trend perkembangan teknologi tersebut dengan aspek-aspke regulasi yang menyertainya.

PO4. Define the IT Organization and Relationship
Penerapana TI di perusahaan telah disertai perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang matang. Mencakup struktur organisasi pengelolaannya dan tingkat layanan yang diberikan oleh TI.

PO5. Manage the IT Investment
TI di perusahaan telah disertai dengan evaluasi/penilaian pembiayaan dan keuntungan yang menyertainya.

PO6. Communicate Management Aims and Direction
Penerapan TI telah didukung oleh kebijakan manajemen perusahaan dan manajemen harus berperan aktif dalam menjadikan kebijakan terkait TI menjadi kebijakan perusahaan secara umum.

PO7. Manage Human Resources
Penerapan TI di perusahaan telah disertai pengelolaan SDM seperti pelatihan, penentuan deskripsi kerja yang jelas dan penilaian kinerja pesonil.

PO8. Ensure Compliance with External Requirement
Penerapan TI di perusahaan telah disertai dengan perencanaan pemenuhan kebutuhan pihak, seperti pemenuhan standard keamanan dan ergonomic, privasi dan kekayaan intelektual, dan e-commerce.

PO9. Assess Risks
Penerapan TI di perusahaan telah disertai perencanaan pengukuran (dan metode pengukuran) resiko-resiko bisnis (umum) dan resiko-resiko terkait penerapan TI dan pendekatan penanganan resiko-resiko tersebut.

PO10. Manage Projects
Penerapan TI di perusahaan telah disertai perencanaan proses implementasinya, seperti keikutsertaan departemen-departemen dalam menentukan kebutuhan TI, pendefinisian proyek, evaluasi, testing dan pelatihannya.

PO11. Manage Quality
Proses desain dan implementasi selalu dipantau dengan berpijak kepada metodologi-metodologi pengembangan TI yang umum digunakan.

2. Acquisition and Implementation
AI1. Identify Automated Solutions
Penerapan TI yang dilakukan dengan menggunakan bundle teknologi siap pakai yang ada di pasaran.

AI2. Acquire and Maintain Application Software
Software yang digunakan oleh perusahaan telah diketahui dengan pasti arsitektur dan spesifikanya, seperti antarmuka, standard output, controllability, pengumpulan data.

AI3. Acquire and Maintain Technology Infrastructure
Infrastruktur teknologi yang digunakan telah dapat dipastikan kemampuannya dalam hal keamanan, kemudahan instalasi, perawatan dan perubahannya.

AI4. Develop and Maintain Procedures
Penerapan TI di perusahaan telah disertai dengan pendefinisian kebutuhan operasional dan tingkat layanan, manual prosedur penggunaan, dan materi pelatihannya.

AI5. Install and Accredit Systems
Penerapan TI di perusahan telah disertai dengan perencanan implementasi, penentuan strategi testing, evaluasi pemenuhan kebutuhan pengguna dan review manajemen perusahaan.

AI6. Manage Changes
Penerapan TI di perusahaan telah disertai dengan pengukuran akibat penerapan TI tersebut kepada karyawan dan fungsi kerja perusahaan, perencanaan penerapan perubahan, dan mengantisipasi akibat perusahaan tersebut.

3. Define Delivery and Support

DS1. Define and Manage Service Level
Setiap tingkatan layanan TI yang dibutuhkan pengguna/unit kerja telah ditetapkan dan didefinisikan secara jelas, mencakup tanggungjawab definisi, tanggungjawab dari fungsi TI, availability, kinerja layanan TI.

DS2. Manage Third Party Services
Kewajiban dan kesepakatan kontrak dari pihak pengelola/eksternal telah dinyatakan dengan jelas, mencakup spesifikasi layanan yang harus dipenuhi, biaya layanan dan kinerja layanan yang disepakati.

DS3. Manage Performance and Capacity
Ketersediaan layanan TI harus tetap terjaga dan berjalan sesuai dengan kinerja yang diharapkan, sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan.

DS4. Ensuring Continuos Services
Dampak yang disebabkan oleh terganggunya layanan TI yang dibutuhkan, dalam memenuhi kegiatan bisnis perusahaan, harus dapat ditekan ke tingkat yang paling minimum/dapat diterima.

DS5. Ensure System Security
Keamanan sistem harus tetap terjaga dari berbagai ancaman, baik ancaman fisik (bencana alam, keamanan ruang server, kebakaran) dan ancaman logik (gangguang virus, pengaksesan data, program aplikasi dan jaringan computer oleh pihak yang tidak bertanggungjawab).

DS6. Identifying and Allocation Cost
Identifikasi dan alokasi Anggaran TI untuk menjaga ketersediaan sumber daya TI yang dibutuhkan dan memastikan sumber daya tersebut digunakan secara optimal.

DS7. Educating and Training Users
Pelatihan dan pendidikan bagi para pengguna (user) agar mereka dapat menggunakan teknologi secara efektif dan mengetahui resiko serta tanggung jawabnya dalam menggunakan teknologi tersebut.

DS8. Assisting and Advising Customers
Memberikan fasilitas yang dapat membantu dan memberikan saran atau solusi bagi pengguna dalam menghadapi masalah dengan penggunaan TI.

DS9. Managing the Configuration
Pengelolaan konfigurasi TI, mencakup pendataan, penghitungan dan verifikasi keberadaan fisik komponen TI yang dimiliki organisasi untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang tidak diharapkan.

DS10. Managing Problems and Incidents
Pengelolaan permasalahan-permasalahan dan insiden menyangkut penerapan dan pengoperasian TI di perusahaan untuk memastikan permasalahan tersebut telah ditangani, dan ditindaklanjuti secara benar.

DS11. Managing Data
Pengelolaan data (proses input, pemrosesan dan output) untuk menjamin integritas, keakuratan dan validasi data.

DS12. Managing Facilities
Pengelolaan fasilitas, menyediakan fasilitas yang baik, dapat melindungi seluruh peralatan TI dan manusia dari ancaman kerusakan yang disebabkan oleh alam atau manusia.

DS13. Managing Operation
Pengelolaan Operasional, memastikan fungsi-fungsi dukungan TI (seperti preventive maintenance, network service management) dilakukan secara regular.

     4. Monitoring and Evaluate
M1. Monitoring the Process
Memastikan tercapainya kinerja yang diharapkan dari setiap proses TI yang diterapkan.

M2. Assess Internal Control Adequacy
Kesesuain kendali-kendali intern harus dievaluasi dan dinilai secara regular, hal ini ditujukan agar setiap kendali yang diterapkan benar-benar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

M3. Obtain Independent Assurance
Meningkatkan kepercayaan diantara organisasi, pengguna, dan penyedia jasa layanan TI eksternal (third party service provider).

M4. Provides for Independent Audit
Menyelenggarakan audit TI yang dilakukan oleh pihak independent untuk meningkatkan kepercayaan dan memastikan kesesuaian penerapan dan pengelolaan TI dalam mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Manfaat Penerapan COBIT
- Merupakan bahasa umum untuk eksekutif, manajemen, dan staf TI.
- Pandangan tentang apa yang dilakukan TI & dapat dipahami manajemen.
- Pemahaman tentang bagaimana bisnis dan TI dapat bekerja sama.
- Penyelarasan yang lebih baik yang berdasarkan pada fokus organisasi.
- Kualitas layanan TI yang lebih baik.
- Peningkatan efisiensi dan optimalisasi biaya.
- Mengurangi risiko operasional.
- Manajemen TI yang lebih efektif.
- Memperjelas pengembangan kebijakan.
- Memicu lebih banyaknya audit yang efisien dan berhasil.

- Memperjelas kepemilikan dan tanggung jawab, berdasarkan orientasi proses.



Sumber :
http://billymerkava.blogspot.com/2013/01/apa-yang-anda-ketahui-mengenai-cobit.html
http://blogerzan.blogspot.com/2013/05/sekilas-tentang-cobit.html
http://kampuskeuangan.wordpress.com/2011/07/30/292/
http://budi.staf.upi.edu/



CMMI (Capability Maturity Model Integration)

Apa itu CMMI ?

Capability Maturity Model Integration (CMMI) merupakan suatu model pendekatan dalam penilaian skala kematangan dan kemampuan sebuah organisasi perangkat lunak.
CMMI merupakan suatu pendekatan perbaikan proses yang memberikan unsur-unsur penting proses efektif bagi organisasi. Praktik-praktik terbaik CMMI dipublikasikan dalam dokumen-dokumen yang disebut model, yang masing-masing ditujukan untuk berbagai bidang yang berbeda. Bidang CMMI terbagi 2:
  1. Development (pengembangan)
  2. Acquisition (akusisi) 

Keuntungan CMMI :
Beberapa keuntungan yang diperoleh saat perusahaan menerapkan CMMI:
- Penilaian studi kualitas (assessing) atas proses kematangan (maturity) terkini.
Meningkatkan kualitas struktur organisasi dan pemrosesan dengan mengikuti pendekatan best-practice.
- Digunakan dalam proses uji-kinerja (benchmarking) dengan organisasi lainnya.
- Meningkatkan produktivitas dan menekan resiko proyek.
- Menekan resiko dalam pengembangan perangkat lunak.
- Meningkatkan kepuasan pelanggan.
- Mempunyai fitur-fitur yang bersifat institusional, yaitu komitmen, kemampuan untuk melakukan sesuatu, analisis dan pengukuran serta verifikasi implementasi.
- Tersedianya “Road Map” untuk peningkatan lebih lanjut.




1. Maturity level 1 – Initialized
Pada ML1 ini proses biasanya berbentuk ad hoc. Sukses pada level ini didasarkan pada kerja keras dan kompetensi yang tinggi orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut atau dapat juga dikatakan perusahaan ini belum menjalankan tujuan dan sasaran  yang telah didefinisikan oleh CMMI.
2. Maturity level 2 – Managed.
Pada ML2 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan dengan proses-proses yang terjadi saling menyesuaikan diri agar dapat diambil kebijakan. Setiap orang yang berada pada proses ini dapat mengakses sumber daya yang cukup untuk mengerjakan tugas masing-masing. Setiap orang terlibat aktif pada proses yang membutuhkan. Setiap aktivitas dan hasil pekerjaan berupa memonitor, mengontrol, meninjau, serta mengevaluasi untuk menjaga kekonsistenan pada deskripsi yang telah diberikan.
3. Maturity level 3 – Defined.
Pada ML3 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2 dan Level 3. Proses dicirikan dengan terjadinya penyesuaian dari kumpulan proses standar sebuah organisasi menurut pedoman-pedoman pada organisasi tersebut, menyokong hasil kerja, mengukur, dan proses menambah informasi lain menjadi milik organisasi.
4. Maturity level 4 – Quantitatively Managed.
Pada ML4 ini, sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada pada Level 2, 3, dan 4. Proses yang terjadi dapat terkontrol dan ditambah menggunakan ukuran-ukuran dan taksiran kuantitatif. Sasaran kuantitatif untuk kualitas dan kinerja proses ditetapkan dam digunakan sebagai kreteria dalam manajemen proses.
5. Maturity level 5 – Optimizing.
Pada ML5 ini suatu organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada di Level 2, 3, 4, dan 5. ML5 fokus kepada peningkatan proses secara berkesinambungan melalui inovasi teknologi.


Perbedaan CMMI dengan ISO :


Perbedaan CMMI dan ISO terletak pada ketelitiannya. Bila kita ingin perusahaan kita mendapat sertifikasi ISO, perusahaan kita harus memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang tertulis. Kemudian kita harus membuktikan pada badan sertifikasi bahwa SOP tersebut kita jalankan dengan baik. Apa saja yang kita tulis dalam SOP bebas terserah kita. ISO tidak mengatur sampai ke tingkat itu.
Berbeda dengan CMMI, selain kita punya SOP, dia punya aturan khusus tentang isi SOP. Misalnya, kalau kita melakukan analisa kebutuhan (requirement gathering), ada beberapa aturan yang harus diikuti, misalnya:
- Pernyataan kebutuhan user harus dicatat
- Pernyataan kebutuhan harus dikonfirmasi ke user
- Kebutuhan harus disetujui kedua pihak
- Kalau ada perubahan, harus dicatat
- Antara kebutuhan dan software yang dideliver, harus bisa dilacak bolak-balik

Sumber :

http://degazrinaldo17.blogspot.com/2011/06/cmmi-capability-maturity-model.html
http://se-kanjuruhan.blogspot.com/2009/04/tugas-cmmi_24.html
http://stevanustanly.wordpress.com/2011/02/11/capability-maturity-model-integration-cmmi/
http://budi.staf.upi.edu/

TOGAF FRAMEWORK


TOGAF ( The Open Group Architecture Framework ) merupakan sebuah framework untuk arsitektur enterprise dimana menyediakan pendekatan secara komprehensif untuk mendesain, merencanakan, mengimplementasi dan melakukan kontrol dengan otoritas pada sebuah informasi arsitektur enterprise. Togaf adalah pendekatan secara holistic untuk mendesain, dimana biasanya dimodelkan dengan 4 tingkat :
  1. Business Architecture : Mendeskripsikan tentang bagaimana proses untuk mencapai tujuan organisasi.
  2. Application Architecture : Pendeskripsian bagaimana aplikasi tertentu didesain dan bagaimana interaksinya dengan aplikasi lainnya.
  3. Data Architecture : Penggambaran bagaimana penyimpanan, pengolahan, dan pengaksesan data pada perusahaan.
  4. Technical Architecture : Gambaran mengenai infrastruktur hardware dan software yang mendukung aplikasi dan bagaimana interaksinya.
Elemen kunci dari TOGAF adalah  Architecture Development Method (ADM) yang memberikan gambaran spesifik untuk proses pengembangan arsitektur enterprise (Lise 2006). ADM adalah fitur penting yang memungkinkan perusahaan mendefinisikan kebutuhan bisnis dan membangun arsitektur spesifik untuk memenuhi kebutuhan itu. ADM terdiri dari tahapan-tahapan yang dibutuhkan dalam membangun arsitektur  enterprise, tahapan-tahapan ADM diperlihatkan pada gambar di bawah ini.





1. Preliminary Phase – fase ini mencakup aktivitas persiapan untuk menyusun kapabilitas arsitektur termasuk kustomisasi TOGAF dan mendefinisikan prinsip-prinsip arsitektur. Tujuan fase ini  adalah untuk menyakinkan setiap orang yang terlibat di dalamnya bahwa pendekatan ini untuk mensukseskan proses arsitektur. Pada fase ini harus menspesifikasikan who, what,  why, when, dan where dari arsitektur itu sendiri.

  •        What adalah ruang lingkup dari usaha.
  •      Who adalah siapa yang akan memodelkannya, siapa orang yang akan bertanggung jawab untuk mengerjakan arsitektur tersebut, dimana mereka akan dialokasikan dan bagaimana peranan mereka.
  •     How adalah bagaimana mengembangkan arsitekture  interprise, menentukan  framework dan metode apa yang akan digunakan untuk menangkap informasi.
  •       When adalah kapan tanggal penyelesaian arsitektur
  •     Why adalah mengapa arsitektur ini dibangun. Hal ini berhubungan dengan tujuan organisasi yaitu bagaimana  arsitektur dapat memenuhi tujuan organisasi.

2. Phase A: Architecture Vision – fase ini merupakan fase inisiasi dari siklus pengembangan arsitektur yang mencakup pendefinisian ruang lingkup, identifikasi stakeholders, penyusunan visi arsitektur, dan pengajuan persetujuan untuk memulai pengembangan arsitektur.
 Beberapa tujuan dari fase ini adalah :

  •    Menjamin evolusi dari siklus pengembangan arsitektur mendapat pengakuan dan dukungan dari manajemen enterprise.
  •      Mensyahkan prinsip bisnis, tujuan bisnis dan pergerakan strategis bisnis organisasi.
  •    Mendefinisikan ruang lingkup dan  melakukan identifikasi dan memprioritaskan komponen dari arsitektur saat ini.
  •      Mendefiniskan kebutuhan bisnis yang akan dicapai dalam usaha arsitektur ini dan batasannya.
  •      Menghasilkan visi arsitektur yang menunjukan respon terhadap kebutuhan dan batasannya.

Beberapa langkah yang dilakukan pada fase ini adalah :

  •        Menentukan / menetapkan proyek
  •        Mengindentifikasi tujuan dan pergerakan bisnis. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai  dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.
  •      Meninjau prinsip arsitektur termasuk prinsip  bisnis. Meninjau ini berdasarkan arsitektur saat ini yang akan dikembangkan. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai  dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.
  •       Mendefinisikan apa yang ada di dalam dan di luar rungan lingkup usaha saat ini.
  •       Mendefinisikan batasan-batasan seperti waktu, jadwal, sumber daya dan sebagainya.
  •       Mengindentifikasikan stakeholder, kebutuhan bisnis dan visi arsitektur.
  •       Mengembangkan Statement of Architecture Work.

3. Phase B: Business Architecture – fase ini mencakup pengembangan arsitektur bisnis untuk mendukung visi arsitektur yang telah disepakati. Pada tahap ini tools  dan  method  umum untuk pemodelan seperti:  Integration DEFinition (IDEF) dan  Unified Modeling Language  (UML) bisa digunakan untuk membangun model yang diperlukan.
Beberapa tujuan dari fase ini adalah :
·        Menguraikan deskripsi arsitektur bisnis dasar.
·        Mengembangkan arsitektur bisnis  tujuan, menguraikan strategi produk dan/atau service dan aspek geografis,  informasi, fungsional dan organisasi dari lingkungan bisnis yang berdasarkan  pada prinsip bisnis, tujuan bisnis dan penggerak strategi.
·        Menganalisi gap antara arsitektur saat ini dan tujuan.
·        Memilih titik pandang yang relevan yang memungkinkan arsitek mendemokan bagaimana maksud stakeholder dapat dicapai dalam arsitektur bisnis.
·        Memilih tools dan teknik relevan yang akan digunakan dalam sudut pandang yang dipilih.
·        Beberapa langkah yang dilakukan di fase ini adalah :
·        Mengembangkan deskripsi asitektur  bisnis saat ini untuk mendukung arsitektur bisnis target.
·        Mengindentifikasi reference model, sudut pandang dan tools
·        Melengkapi arsitektur bisnis
·        Melakukan gap analisis dan membuat laporan



4. Phase C: Information Systems Architectures – Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitektur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan. Teknik yang bisa digunakan dengan yaitu:  ER-Diagram,  Class Diagram, dan  Object Diagram.
Tujuan dari fase ini adalah mengembangkan arsitektur tujuan dalam domain data dan aplikasi.  Ruang lingkup dari proses bisnis yang didukung dalam fase C dibatasi pada proses-proses yang didukung oleh TI dan  interface  dari proses-proses yang berkaitan dengan non-TI. Implementasi dari arsitektur ini mungkin tidak perlu dalam urutan yang sama, diutamakan terlebih dahulu yang begitu sangat dibutuhkan.
Tujuan dari arsitektur data adalah untuk mendefinisikan  tipe dan sumber utama data yang diperlukan untuk mendukung bisnis dengan cara yaitu dapat dipahami oleh stakeholder, lengkap, kosisten, dan stabil. Penting untuk diketahui bahwa arsitektur ini tidaklah memperhatikan perancangan database. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan entitas data yang relevan dengan enterprise, bukanlah untuk merancang sistem penyimpanan fisik dan logik.
 Beberapa langakah yang diperlukan untuk membuat arsitektur data adalah:
- Mengembangkan deskripsi arsitektur data dasar
- Review dan validasi prinsip, reference model, sudut pandang dan tools.
- Membuat model arsitektur
- Memilih arsitektur data building block
- Melengkapi arsitektur data
- Melakukan gap analysis  arsitektur data saat ini dengan arsitektur data target  dan membuat laporan.

Tujuan dari arsitektur aplikasi adalah untuk mendefinisikan jenis-jenis utama dari sistem aplikasi yang penting untuk memproses data dan mendukung bisnis. Penting untuk diketahui bahwa arsitektur aplikasi ini tidaklah memperhatikan perancangan sistem  aplikasi. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan jenis-jenis sistem aplikasi yang relevan dengan  enterprise dan aplikasi apa saja yang diperlukan  untuk mengatur data dan menghadirkan informasi kepada aktor manusia dan komputer di  enterprise. Aplikasi tidak diuraikan sebagai sistem komputer tetapi sebagai grup logik dari kemampuan untuk mengatur objek data dalam arsitektur data dan mendukung fungsi-fungsi bisnis dalam arsitektur bisnis. Aplikasi dan kemampuan didefinisikan tanpa mereferensikan ke teknologi khusus. Suatu aplikasi bersifat stabil dan relatif tidak berubah sepanjang waktu sedangkan teknologi yang digunakan untuk mengimplementasikannya akan barubah sepanjang waktu, berdasarkan pada teknologi yang sekarang tersedia dan perubahan kebutuhan bisnis.
Beberapa langkah yang diperlukan  untuk membuat arsitektur aplikasi adalah :
- Mengembangkan deskripsi arsitektur aplikasi dasar
- Review dan validasi prinsip, reference model, sudut pandang dan tools.
- Membuat model arsitektur
- Indentifikasi sistem aplikasi kandidat
- Melengkapi arsitektur aplikasi
- Mealakukan gap analysis dan membuat laporan

5. Phase D: Technology Architecture –Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan  Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.
Beberapa langkah yang diperlukan  untuk membuat arsitektur teknologi yaitu:
- Membuat deskripsi dasar dalam format TOGAF
- Mempertimbangkan  reference model arsitektur yang berbeda, sudut pandang dan tools.
- Membuat model arsitektur dari building block
- Memilih services portfolio yang diperlukan untuk setiap building block
- Mengkonfirmasi bahwa tujuan bisnis tercapai
- Menentukan kriteria pemilihan spesifikasi
- Melengkapi definisi arsitektur
- Melakukan  gap analysis antara arsitektur teknologi saat ini dengan arsitektur teknologi target.

6. Phase E: Opportunities and Solutions –  Pada tahap ini akan dievaluasi model yang telah dibangun untuk arsitektur saat ini dan tujuan, indentifikasi proyek utama yang akan dilaksanakan untuk mengimplementasikan arsitektur tujuan dan klasifikasikan sebagai pengembangan baru atau penggunaan kembali sistem yang  sudah ada. Pada fase ini juga akan direview gap analysis yang sudah dilaksanakan pada fase D.
Tujuan dari fase ini  adalah :
·  Mengevaluasi dan memilih pilihan implementasi yang diidentifikasikan dalam pengembangan arsitektur target yang bervariasi
·        Identifikasi parameter strategik untuk perubahan dan proyek yang akan dilaksanakan dalam pergerakan dari lingkungan saat ini ke tujuan.
·        Menafsirkan ketergantungan, biaya dan manfaat dari proyek-proyek yang bervariasi.
·   Menghasilkan sebuah implementasi keseluruhan dan strategi migrasi dan sebuah rencana implementasi detail.



7. Phase F: Migration and Planning – Pada fase ini akan dilakukan analisis resiko dan biaya. Tujuan dari fase ini adalah untuk memilih proyek implementasi yang bervariasi menjadi urutan prioritas. Aktivitas mencakup penafsiran ketergantungan, biaya, manfaat dari proyek migrasi yang bervariasi. Daftar  prioritas proyek akan berjalan untuk membentuk dasar dari perencanaan implementasi detail dan rencana migrasi.

8. Phase G: Implementation Governance – fase ini mencakup pengawasan terhadap implementasi arsitektur.
 Tujuan dari fase ini adalah :
- Untuk merumuskan rekomendasi dari tiap-tiap proyek implementasi
- Membangun kontrak arsitektur untuk memerintah proses deployment dan implementasi secara keseluruhan
- Melaksanakan fungsi pengawasan secara tepat selagi sistem sedang diimplementasikan dan dideploy
- Menjamin kecocokan dengan arsitektur yang didefinisikan oleh proyek implementasi dan proyek lainnya.

9. Phase H: Architecture Change Management – fase ini mencakup penyusunan prosedur-prosedur untuk mengelola perubahan ke arsitektur yang baru.  Pada fase ini akan diuraikan  penggerak perubahan dan bagaimana memanajemen perubahan tersebut, dari pemeliharaan sederhana sampai perancangan kembali arsitektur. ADM menguraikan strategi dan rekomendasi pada tahapan ini. Tujuan dari fase ini adalah untuk menentukan/menetapkan proses manajemen perubahan arsitektur untuk arsitektur  enterprice  yang baru dicapai dengan kelengkapan dari fase G. Proses ini akan secara khusus menyediakan monitoring berkelanjutan  dari hal-hal seperti pengembangan teknologi baru dan perubahan dalam lingkungan bisnis dan menentukan apakah untuk menginisialisasi secara formal siklus evolusi arsitektur yang baru. Fase H juga menyediakan perubahan kepada  framework dan pendirian disiplin pada fase Preliminary.

10. Requirements Management – menguji proses pengelolaan architecture requirements sepanjang siklus ADM berlangsung

Sumber:
http://ardhibeniyanto.wordpress.com/tag/togaf/
http://togafsae.wordpress.com/20120/06/14/togaf-adm/
Yunis, Roni & Kridanto Surendro.2009.Perncangan Model Enterprise Architecture dengan TOGAF Architecture Development Moethod. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009.
http://budi.staf.upi.edu/